Our Hill

•••

Setelah mengupload tweet, ia segera mematikan ponsel, dan memasukannya dalam jaket bomber berwarna hitam yang ia pakai, lalu menyalakan motor Ninja ZX-6R kesayangannya. 

Delicca Athavera, yang akrab dipanggil Licca. Gadis intovert berusia 27 tahun ini sangat senang menghabiskan waktunya bersama sang motor kesayangan di jalanan. 

Pernah takut untuk sendirian, namun dikarenakan suatu keadan yang membawa perubahan, hingga kini, ia lebih nyaman untuk pergi sendirian. 

Seperti saat ini, Licca melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam tanpa seorang pun yang menemaninya di jam 12 malam. Entah kemana tujuannya, ia selalu menikmati ketika dirinya berada di jalanan dengan bintang dan bulan yang menerangi gelapnya malam.

Dibalik helm, Licca mengedarkan pandangannya, tak banyak kendaraan lalu lalang karena waktu sudah larut malam, lagi pula ini bukan malam minggu. 

•••

Tanpa disadari, Licca membawa dirinya kembali mengunjungi bukit yang menampung banyak kenangan tentang dirinya dan seseorang.

Ia memarkirkan motornya ditepi pagar pembatas, menatap langit, indahnya langit terlihat lebih jelas di atas bukit walau dengan mata telanjang. 

Licca tersenyum tipis, ia memandang sekitarnya, masih sama seperti dulu, namun terasa sangat hampa. Rumah pohon dengan bergaya semi-modern, yang dibangun khusus untuknya dan seseorang pun kini sudah tak seindah dulu, walau bersih karena ia selalu memanggil orang untuk membersihkannya tiap bulan.

Menghirup udara agar dirinya lebih tenang, namun bayangannya tentang seseorang, membuat Licca berharap bisa kembali ke masa lalu.

Setelah mematikan motornya, Licca segera menghampiri laki-laki di sampingnya yang masih duduk di atas motor.

"Travis! ayo cepetan," tutur Licca, sambil menepuk pundak laki-laki di sampingnya.

"Iya Ca, kamu tuh sabar dikit dong," "nah tuh, sampe lupa kan belum dilepas helmnya," lanjut laki-laki yang Licca panggil Travis tadi. 

Licca yang tersadar, ia tertawa, terlalu semangat hingga lupa helm masih menempel di kepalanya. 

"Ih, gak mau kebuka lho," ucap Licca, sambil mengotak-atik helmnya. Sedang Travis ia menghela nafas melihat kelakuan sang pacar, ia turun dari motor Ninja ZX-10R 998 CC. 

Untuk membantu Licca membuka pengait helm.

Setelah terlepas, Licca segera menarik Travis untuk pergi ke rumah pohon yang baru selesai dibangun, niatnya ingin tour berdua bersama. Namun Travis malah menarik kembali tangannya.

"Sebentar Caa, liat kamu tuh kamu markir motor sembarangan banget," tunjuk Travis, dengan segera Travis pun memindahkan motor milik Licca agar sejajar dengan motornya.

Tidak perlu heran, mereka berdua mempunyai kesenangan yang sama, yaitu mengendarai motor. Walaupun satu motor sebenarnya mampu membawa mereka berdua, namun mereka lebih memilih untuk bawa sendiri-sendiri. 

Tidak ada masalah lagi, mereka berdua pun menuju ke rumah pohon, dan melakukan tour bersama. Tujuan mereka membangun rumah diatas bukit karena mereka menyukai ketenangan, dan rencananya akan mereka tinggali bersama setelah lulus kuliah nanti.

Setelah selesai mengelilingi rumah pohon, Licca maupun Travis sibuk mempersiapkan piknik berdua mereka di bukit itu.

"Huh, capek," keluh Licca, "untungnya udah sore dan sejuk," sambil duduk diatas alas untuknya piknik.

Travis pun menyusul Licca duduk, ia menatap Licca yang sedang mengusap bulir keringat menggunakan tangannya. 

Travis berdecak, ia mengambil tisu, "kotor sayang," ujarnya sambil mengelap bulir keringat Licca, "tisu di samping kamu, kenapa gak dipake hm?" tanya Travis.

"Yaaa kan lupa, orang lagi cape," sahut Licca.

Travis membuang tisu, "yaudah yuk makan, kita belum makan dari siang," ajak Travis. Mereka pun segera membuka kotak makan yang dibawanya. 

"Trav, kelulusan kita bisa dipercepet aja gak sih," tutur Licca disela-sela makan. 

"Tergantung, kalo kita gercep pasti cepet lulus," jawab Travis 

"Ah segercep-gercepnya juga 3,5 tahun paling."

"Mau ngapain sih cepet-cepet lulus?" Tanya Travis.

"Biar cepet tinggal di sini sama kamu lah," jawab Licca.

Travis terkekeh mendengar jawaban Licca, "Tinggal sama aku?" 

Licca mengangguk menatap Travis, "Mau dihalalin pake yang mana dulu... Atas nama Allah SWT atau Adi Buddha?" 

"..."

Tidak ada jawaban selama beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam satu sama lain.

"Kalau dihalalin pake logo halal aja gimana?" celetuk Licca, tak lama suara tawa menggelegar diantara mereka. 

Entah menertawai ucapan Licca, atau menertawai kebodohan mereka yang memiliki cinta pada orang yang berbeda keyakinan, padahal telah dilarang keras oleh kedua agama masing-masing.

•••

Suara motor yang tak asing di telinga Licca membuyarkan lamunannya. Licca melirik pemilik motor itu yang baru saja mematikan mesin motor, ia berusaha menetralkan detak jantungnya.

"Eh? itu ada perempuan disana, bukannya kamu bilang bukit ini jarang orang tahu?" 

Samar-samar Licca mendengar, bagaimana perempuan yang dibawa oleh pemilik motor bertanya tentang dirinya. Ia menunggu jawaban dari sang pemilik motor, namun tak kunjung bersuara.

"Tapi keren ya dia, bisa naik motor gede, aku mau juga!" 

"Nggak-nggak rawan kecelakaan tau," tolak sang pemilik motor.

'udah seagama ya, Trav? jadi protektif banget, kalo dulu, malah kamu yang maksa aku untuk belajar naik moge' batin Licca tertawa masam. 

"Ish asik tau, kan kita jadi bisa balapan, brummm~" 

"Gak usah aneh-aneh babe. Aku bonceng aja udah, paling aman, gak sakit-sakit juga badan kamu," tutur Travis

"Udah sini, katanya mau lihat pemandangan malam," lanjut Travis, sambil merangkul perempuan yang dipanggil Meira.

Licca menatap langit, sungguh ia merutuki dirinya mengapa ia bisa menginjakkan kaki di bukit ini lagi. 

Licca perlahan menjauh dari dua insan yang sedang menikmati malam, ia menuju rumah pohon, dan berhenti dibalkon. 

Balkon yang menghadap ke tempat dua insan itu berada. Diam-diam Licca memfoto pasangan itu.

Licca bohong jika dirinya mengatakan bahwa Ia tidak iri pada perempuan itu. 

Bagaimana sang mantan pacar memperlakukan pacar barunya, meskipun Licca pernah ada diposisi Meira, rasa iri itu tetap ada.

Sepasang mata menatapnya di bawah sana, Travis, Travis menatapnya. Bukan sekedar tatapan biasa, tapi seperti ada pesan tersirat didalamnya.

Selama beberapa detik, seperti kembali ke masa lalu. Hingga perempuan bernama Meira itu menepuk pipi Travis, dan memutuskan kontak mata dengan Licca. 

Licca memutuskan untuk menyudahinya, dan masuk kedalam rumah pohon. Dan bermalam disana.

Licca terbangun dari tidurnya karena terusik oleh suara ketukan pintu, belum ada satu jam ia tidur. Licca membuka pintu, yang ternyata Travis dan Meira digendongannya.

"..."

"Gua izin buat bermalam disini ya, kasian Meira," ucapnya sambil melirik ke Meira yang sudah tertidur pulas. Dan hanya dibalas anggukan oleh Licca.

Tanpa permisi Travis pergi menuju kamar, dan menidurkan Meira disana. Hanya ada satu kamar dirumah pohon ini. 

Licca mengambil helmnya, dan memakai jaket bombernya, ia memutuskan untuk pulang sekarang saja. Tidak mungkin ia berada dalam satu atap bersama Travis dan Meira.

Travis yang baru saja keluar dari kamar, ia berdehem.

"Mau kemana?" Tanya Travis.

"Pulang," jawab Licca seadanya, saat Licca ingin keluar rumah, ia mendapati tangannya yang ditahan oleh Travis, "lo gak liat? ini pagi buta. Gak baik, apalagi lo cewe, rawan begal juga-"
"-di sini dulu, lo bisa tidur sama Mei, gua tidur di sofa."

"Nggak, gue pulang aja," kekeuh Licca.

"Bisa gak lo dengerin gua? ini buat keamanan lo juga."

Pada akhirnya Licca menuruti ucapan Travis. Tak bisa lagi tidur, kini Licca berada di balkon dengan secangkir kopi panas.

Tak lama Travis menyusul berdiri di samping Licca, yang juga membawa secangkir kopi.

"Apa yang buat lo kesini?" Tanya Travis membuka percakapan. Licca melirik Travis sekilas, lalu menggedigkan bahunya. 

Seperti mengerti maksud Licca, Travis menjawab, "sama, gua juga gak tau apa yang buat gua kesini."

"..."

"Ca,"
"Ca,"
"Licca,"

"Kenapa sih Trav?" 
"Gua seneng deh sama suasana saat ini, yang cuma ada kita berdua," jujur Travis.
"Inget lo punya Mei!" Imbuh Licca.

"Stt-"
"Emang lo gak kangen?" 

Licca terdiam oleh pertanyaan Travis, kalo boleh jujur, Licca sangat rindu dengan suasana dimana cuma ada dirinya dan Travis, namun Ia sadar, Travis sudah punya Mei, dan juga tak mungkin dirinya bisa menyatu dengan Travis.

Travis memegang pundak Licca, lalu memutar menghadapnya.

Travis menatap Licca dengan tatapan dalam. "Ca, jujur, kita masih punya cinta satu sama lain iya kan?"

"Gausah bahas itu Trav."

"Ca-"
"Trav."

"Yes, we still has same feeling. Can u stop? Can u forget it? sebesar apapun cinta kita, gak akan pernah bisa buat kemajuan apapun," lirih Licca, cairan bening yang dari Ia tampung kini tumpah.

"Karna 'kita' itu bukan takdir yang ditetapkan. Kita hanya dua insan yang tak sengaja bertemu dipersimpangan, dan pada akhirnya kita pergi ke jalan masing-masing."

Licca mengusap air matanya kasar, "Maaf," bisik Travis.

Travis membawa Licca kedalam pelukannya, mengusap punggung Licca, guna membawa ketenangan, "maaf, it's not easy to forget our memories, gua masih suka terbayang tentang kita."

"Jujur, kalo ada kesempatan untuk mengubah takdir, gua akan pake takdir gua itu lo, Delicca."

'Jujur, kalo memang ada satu kesempatan aja, gue juga mau Trav.' Batin Licca.

Nyatanya hubungan Licca dan Travis dua tahun lalu yang dipaksa berhenti, disaat keduanya masih saling memiliki rasa cinta yang penuh, dikarenakan tembok kokoh yang tak akan bisa ditembus, masih membekas di hati mereka masing-masing.





















Komentar