Septhirty
Kisah yang tidak bisa masuk kegolongan cerpen apalagi novel walaupun punya prolog namun tanpa pengenalan dan epilog tanpa penyelesaian. Mengayuh sepeda untuk sekedar menikmati angin di sore hari, tidak terlintas bayangan apa pun dalam benakku tentang apa yang akan terjadi di hari itu. Hari yang ku kira sama seperti hari-hari biasanya, namun ternyata tidak. Netraku terpaku pada sesosok laki-laki jangkung dengan kaus bernomor punggung lima belas yang baru saja melambungkan bola ke cincin yang menempel di sebuah papan triplek setinggi tiga meter. Suara loncengan sepeda dari arah belakang membuat lamunanku membuncah dan dengan segera Aku mengalihkan atensiku agar tetap seimbang mengendarai sepeda. Berkat itu, tidak ada adegan konyol jatuh dari sepeda karena terlalu fokus melihatnya. Karena adegan konyol yang sebenarnya, terjadi di dalam tubuhku. Perasaan tak asing yang tiba-tiba muncul, ku anggap remeh, karena ini bukan yang pertama. Dan kupikir perasaan ini akan tenggelam...