Ineffable
•••
•••
•••
•••
Sea menutup aplikasi twitter, lalu mematikan ponselnya, ia menghela nafas berat. Ia memandang kosong papan tulis di depan kelas yang berisi penuh dengan angka-angka rumit.
Tak lama bell terakhir berbunyi, gadis dengan rambut kuncir kuda itu bergegas merapihkan bukunya, dan bersiap untuk pulang. Ia ingin pulang lebih awal hari ini, agar tidak bertemu teman tim basketnya.
•••
•••
Dari ketikannya saja sudah terlihat bahwa Sea sedang kaget, Sea hampir berteriak kencang kalau saja Ia tak sadar jika sudah tengah malam.
•••
•••
Empat hari berlalu dengan begitu cepat, sudah H-1 lomba, sejak Coach Gill memberi tahu Sea kalau mereka akan bertanding dengan SMA Pratama, Ia segera bergabung kembali dengan tim basketnya.
Kembali ikut latihan setiap hari, dengan lebih semangat, karena angan-angannya yang membayangkan akan bertemu Nic.
Namun angan-angan tanpa kepastian langsung itu tak lebih dari botol plastik yang telah habis, kosong dan hanya sampah. Alias tidak bisa berharap apapun.
Sea mencoba untuk fokus dihari pertama lomba, namun tidak semudah itu, matanya terus berkeliaran mencari sesuatu yang sudah Ia tunggu-tunggu dari lama.
•••
Pagi ini Sea bersiap dengan kurang semangat, namun Ia harus tetap pergi mengikuti lomba, mau tidak mau, karena timnya masuk semifinal.
Sea dan teman satu timnya kini berada di rooftop sekolah mereka. Di rooftop hanya ada mereka berlima, karena semua murid berada dilapangan untuk melihat pertandingan basket putra.
"ayo sekarang kita pastiin lagi strategi buat nanti," Anya mengajak teman-temanya untuk membicarakan strategi mereka nanti. Sea, dan Gina pun mengangguk sambil mendekati Anya, guna mempermudah komunikasi.
Namun tidak dengan Lia dan Dena, mereka tengah berada berdiri di pinggir pagar, sambil melihat kebawah dimana lapangan berada.
Sayup-sayup Sea mendengar percakapan Lia dan Dena, "Na liat dehhh yang itu cakep banget anjirrr," ujar Lia sambil menunjuk ke arah lapangan.
"Yang mana sihhh Li?" tanya Dena, Lia pun berdecak "itu yang nomor punggungnya 15" jawab Lia.
Deg..
Otak Sea seperti langsung berkelana, nomor punggung Nic dua tahun lalu adalah 15, apakah berubah atau benar itu dia?
Sea mengabaikan panggilan Anya dan Gina, Ia malah ikut bergabung dengan Lia serta Dena. Matanya menangkap satu sosok yang sangat familiar, sosok laki-laki bertubuh jangkung dan berisi, menggunakan jersey berwarna putih bordir biru dan merah, dengan tulisan punggungnya
NICO
15
Sea tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri seperti ingin menangis, Lia dan Dena menatap aneh teman satu timnya itu.
"Woy Sea! lo kenapa?? kok nangisss???" Tanya Lia panik saat melihat sang teman meneteskan air dari matanya.
Sea yang tersadar segera menghapus air matanya, Ia mencoba untuk berbohong kalau tidak menangis, melainkan kelilipan.
Ia menuruni tangga dari rooftop, bertepatan dengan selesainya permainan basket putra. Matanya menangkap orang yang selama ini Ia tunggu pergi ke kantin, Sea memutuskan untuk mengikutinya.
Melihat sang empu sedang mengantri di warung pop ice yang ramai, Ia mempunyai ide.
Sea menerobos antrian, tubuh Sea yang sangat proporsional mampu melakukannya hingga membawanya berada di antrian paling depan.
"Ibu, pop ice coklat satu ya! Jangan lama," pesan Sea.
Sea cukup akrab dengan Ibu kantin, itulah sebabnya Ia tak perlu menunggu lama.
Sea berbalik, dan menetralkan jantungnya selama beberapa menit, lalu ia dengan percaya diri berjalan menuju laki-laki yang sedang berkutik dengan ponselnya di ujung antrian pop ice.
"Hai? Nico?" Sapa Sea ramah.
Laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari ponsel lalu menoleh ke arahnya, alisnya mengkerut, tak lama Ia menaikka dua alisnya.
"Sea?"
"Iya gue Sea, what's up Nic?"
Nic terkekeh "gue baik, gue baru tau lo sekolah disini ternyata, lo sendiri gimana?" ujar Nic.
"gue baik juga kok," jawab Sea.
"eh iya, nih buat lo, abis tanding cape kan? jadi gue antriin biar gak double capenya," tutur Sea sambil memberikan segelas pop ice, "by the way, gue mesennya yang dulu lo suka minum, sorry ya kalau sekarang mungkin lo udah ganti," ucap Sea.
laki-laki yang Sea panggil Nic itu menerima minuman dengan baik, "masih inget ya lo, gue masih pop ice coklat kok," "thanks ya Ayaa!" lanjut Nic mengelus rambut Sea pelan. Lalu dibalas anggukan oleh Sea.
Jujur saja kini Sea tengah berusaha menahan senyumannya, Ia ingin sekali menjerit ketika Nic memanggilnya dengan nama panggilan saat Ia dan Nic masih tetanggan.
"Eh Ya, lo ikut lomba basket ini?" Tanya Nic, mungkin Nic sadar Ia menggunakan jersey. Sea menarik sudut bibirnya "Iya dong."
"Hah serius? lo dribbling aja gak stabil," ungkap Nic, Sea pun berdecak "Itu dua tahun lalu ya Nicoo."
Nic terkekeh, "gak percaya lo, gue bisa main basket?" tanya Sea menyipitkan matanya. Nic mengetukan jarinya di dagu seperti sedang berpikir. "Ya gimana yaa.."
Sea berdecak, "oke oke, gue bakal buktiin, kalo gue masuk final dan menang, lo harus traktir gue!"
"Deal!"
•••
Sea bergerak dengan lincah di lapangan, menggiring bola lalu menshoot dengan tepat. Ia sempat beberapa kali terjatuh, namun tak mematahkan semangatnya, Ia harus menunjukkan yang terbaik untuk Nic.
Pertandingan selesai, tim Sea berhasil masuk ke tahap final. Sea tersenyum. Ia duduk di tribun. Dari kejauhan Sea menatap Nic yang berjalan menghampirinya.
"Nih pop ice bubble gum kan?" Tanya Nic sambil menyodorkan segelas minuman, Sea menatap Nic, "apanih? kan belom final kok udah traktir aja?"
"Bukan, ini mah balikkan karna lo beliin gue pop ice tadi," jawab Nic. Sea pun menerimanya dengan baik.
Sea pikir Nic segera kembali bergabung dengan temannya, nyatanya Ia salah, Nic malah berjongkok dihadapannya.
Sea meringis saat Nic meluruskan kakinya yang terluka akibat jatuh tadi.
"Terlalu bersemangat ya lo, sampe jatoh berkali-kali," "gak sakit hm?" Tanya Nic.
"Tadi sih gak sakit, tapi sekarang baru kerasa," jawab Sea jujur.
"Besok jangan gini lagi, lo tuh main tim, gak perlu lari sana-sini, makan energi banyak," tutur Nic.
"Iya, kan tadi gue mau nunjukkin ke lo, kalo gue bisa main basket," jawab Sea lalu mendengus.
"Gue udah tau lo jago dari awal, buktinya kepilih dan bisa wakilin sekolah," "udah yuk ke UKS, gue obatin."
•••
•••
•••
•••
•••
Jam menunjukkan pukul 20:00, Sea sedang bersiap untuk pergi ke food festival bersama Nic. Sungguh Ia tak sabar.
"Sea! cepetan Nico udah dateng nihh!" teriak sang mama dari lantai bawah. Dengan segera Sea mengambil tasnya, lalu turun ke lantai bawah.
Kini mereka berdua sudah berada di food festival, Nic sengaja mengajak Sea ke sini, karna Ia tahu, Sea lebih suka jajan dari pada ditraktir untuk belanja pakaian.
"Gila rasanya gue pengen makan semua deh," ujar Sea sesaat setelah turun dari mobil. Nic terkekeh, "iya makan gih semua, kalo sanggup."
Sea berjalan zig-zag untuk membeli makanan yang menarik dan unik dimatanya, sedang Nic setia berada di sampingnya.
Setelah membeli beberapa makanan, Nic dan Sea memutuskan untuk duduk di tempat yang disediakan. Dengan segera Sea membuka makanan yang tadi Ia beli, lebih tepatnya dibelikan Nic. Keduanya hening, tidak ada percakapan apapun, Sea sibuk makan, sedang Nic, ia sibuk memperhatikan Sea yang makan dengan lahap.
"Nic, gue seneng deh, masa akhir-akhir ini gue deket lagi sama crush gue," Sea membuka percakapan.
"Crush lo yang mana? masih yang dulu? yang beda agama?"
"Iya, dia, udah gue nanti-nanti, dan akhirnya gue bisa deket lagi, gue harap bisa bertahan lama," tutur Sea lalu melahap makanannya.
"Gila? lo masih nungguin dia yang beda agama, ngapain sih Aya??"
"...Ya gatau juga sih gue, but he's my first love"
Nic menghela nafas, lalu Ia mengeluarkan ponselnya, "Nih liat, cari tuh yang seagama kayak gue."
Sea menengok kearah ponsel Nic, yang terlihat ada Nic dan seorang perempuan disampingnya, dengan latar belakang seperti.. gereja.
"pacar lo?" tanya Sea pelan.
Nic mengangguk dengan semangat "Yoi."
"Cantik kan?" Tanyanya.




Komentar
Posting Komentar