Septhirty
Kisah yang tidak bisa masuk kegolongan cerpen apalagi novel walaupun punya prolog namun tanpa pengenalan dan epilog tanpa penyelesaian.
Mengayuh sepeda untuk sekedar menikmati angin di sore hari, tidak terlintas bayangan apa pun dalam benakku tentang apa yang akan terjadi di hari itu. Hari yang ku kira sama seperti hari-hari biasanya, namun ternyata tidak.
Netraku terpaku pada sesosok laki-laki jangkung dengan kaus bernomor punggung lima belas yang baru saja melambungkan bola ke cincin yang menempel di sebuah papan triplek setinggi tiga meter.
Suara loncengan sepeda dari arah belakang membuat lamunanku membuncah dan dengan segera Aku mengalihkan atensiku agar tetap seimbang mengendarai sepeda. Berkat itu, tidak ada adegan konyol jatuh dari sepeda karena terlalu fokus melihatnya.
Karena adegan konyol yang sebenarnya, terjadi di dalam tubuhku. Perasaan tak asing yang tiba-tiba muncul, ku anggap remeh, karena ini bukan yang pertama. Dan kupikir perasaan ini akan tenggelam seiring berjalannya waktu, seperti yang sudah-sudah.
Memendam hampir dua tahun lamanya, tanpa perkenalan, interaksi, dan komunikasi. Rasa yang sudah menjalar hingga ke sel terdalam, dan terlambat menyadari ini bukan sekedar jatuh cinta biasa.
Hingga belum sempat mengutarakannya, Aku harus meninggalkannya
Tiap-tiap lembar yang kuhabiskan setiap hari untuk menceritakannya, berhenti begitu saja seperti cerita yang digantung.
Berusaha untuk melupakan buku sebelumnya yang menggantung, dan menulis buku baru dengan percaya diri, berpikir bahwa akan mudah melupakannya, karena terhalang jarak, dan tidak memungkinkan untuk bertemunya lagi.
Namun entah apa yang direncanakan oleh Tuhan, buku itu masih ku tulis hampir setiap hari hingga detik ini dengan alur yang tak tahu kemana arahnya.
•••
Dengan sadar Aku mengatakannya, bahwa tak pernah hilang rasa ini untukmu, hanya saja harus ku kubur oleh rasa ikhlas.
Ikhlas mengakui bahwa kita tak akan pernah bisa menyatu karena dimiliki oleh Tuhan yang berbeda dan karena sudah ada tangan perempuan digenggamanmu.
Ini sudah memasuki tahun keempat, dan ku rasa sudah saatnya aku menutup lembaran tentangmu, biarkanlah catatan ini menjadi lembaran terakhir tentangmu. Biarkan aku menutup buku ini dengan ending yang tak pernah usai.
Terima kasih dan maaf untukmu, selamat berkelana kamu yang pernah jadi semestaku, semoga kita dipertemukan kembali di titik terbaik menurut takdir.
🦋
Komentar
Posting Komentar